Islamic Widget

Tuesday, March 8, 2011

Rasulullah SAW dengan sebiji limau...


"Suatu hari Rasulullah SAW didatangi oleh seorang wanita kafir. Ketika itu baginda bersama beberapa orang sahabat. Wanita itu membawa beberapa biji buah limau sebagai hadiah untuk baginda. Cantik sungguh buahnya.Siapa yang melihat pasti terliur. Baginda menerimanya dengan senyuman gembira. Hadiah itu dimakan oleh Rasulullah SAW seulas demi seulas dengan tersenyum. Biasanya Rasulullah SAW akan makan bersama para sahabat, namun kali ini tidak. Tidak seulas pun limau itu diberikan kepada mereka. Rasulullah SAW terus makan. Setiap kali dengan senyuman, hinggalah habis semua limau itu. Kemudian wanita itu meminta diri untuk pulang, diiringi ucapan terima kasih dari baginda. Sahabat-sahabat agak hairan dengan sikap Rasulullah SAW itu. Lalu mereka bertanya. Dengan tersenyum Rasulullah SAW menjelaskan "Tahukah kamu, sebenarnya buah limau itu terlalu masam semasa saya merasainya kali pertama. Kiranya kalian turut makan bersama, saya bimbang ada di antara kalian yang akan mengenyetkan mata atau memarahi wanita tersebut. Saya bimbang hatinya akan tersinggung. Sebab tu saya habiskan semuanya." Begitulah akhlak Rasulullah SAW. Baginda tidak akan memperkecil-kecilkan pemberian seseorang biarpun benda yang tidak baik, dan dari orang bukan Islam pula. Wanita kafir itu pulang dengan hati yang kecewa. Mengapa? Sebenarnya dia bertujuan ingin mempermain-mainkan Rasulullah SAW dan para sahabat baginda dengan hadiah limau masam itu. Malangnya tidak berjaya. Rancangannya di'tewas'kan oleh akhlak mulia Rasulullah SAW.

Monday, March 7, 2011

Episode Cinta di Akhir Hayat Nabi Muhammad

Berikut ini adalah sepenggal kisah dari episode kehidupan Nabi Muhammad saw yang dinukil dari kitab “Duratun Nashihin”. Kisah ini menggambarkan keadilan Rasulullah dan kecintaan para sahabatnya. Sebuah cinta yang berlandaskan iman dan berbalas surga.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Bahwa setelah dekat wafat Nabi Muhammad SAW, Beliau memerintahkan Bilal untuk menyerukan shalat kepada manusia. Bilal lalu menyerukan Adzan dan berkumpullah para Sahabat Muhajirin dan Anshar ke Masjid Rasulullah SAW. Beliau mengerjakan shalat dua rakaat ringan bersama para sahabat. Kemudian naik mimbar, memuji dan menyebut keagungan Allah SWT.
Beliau berkhutbah dengan sebuah khutbah yang dalam, hati menjadi takut karenanya, dan air mata bercucuran karenanya.
Kemudian Beliau bersabda: “Wahai sekalian muslimin, sesungguhnya aku adalah seorang Nabi kepada kamu, pemberi nasihat dan berda’wah kepada Allah SWT dengan seijinNya. Dan aku berlaku kepadamu sebagai seorang saudara yang menyayangi dan sekaligus sebagai ayah yang belas kasih. Barang siapa diantara kamu yang mempunyai suatu penganiayaan pada diriku, maka hendaklah dia berdiri dan membalas kepadaku sebelum datang balas membalas di hari kiamat.”
Tidak ada seorangpun yang berdiri menghadapnya, sehingga Beliau bersabda demikian kedua kali dan ketiga kalinya. Barulah berdiri seorang laki-laki bernama Akasyah bin Muhshin.
Berdirilah dia di depan Nabi Muhammad SAW dan berkata: “Demi Ayah dan Ibuku sebagai tebusanmu Ya Rasulullah, seandainya engkau tidak mengumumkan kepada kami berkali-kali, tentu aku tidak akan mengajukan sesuatu mengenai itu. Sungguh aku pernah bersamamu di Perang Badar. Saat itu untaku mendahului untamu. Maka turunlan aku dari unta dan mendekatimu agar aku dapat mencium pahamu. Tetapi engkau lalu mengangkat tongkat yang biasa engkau pergunakan untuk memukul unta agar cepat jalannya dan engkau pukul lambungku. Aku tidak tahu apakah itu atas kesengajaan dirimu atau engkau maksudkan untuk memukul untamu ya Rasulullah?”.
Rasulullah bersabda: “Mohon perlindungan kepada Allah hai Akasyah, kalau Rasulullah sengaja memukulmu.”
Bersabda lagi Beliau kepada Bilal: “Hai Bilal, berangkatlah ke rumah Fathimah dan ambilkan tongkatku.”
Maka keluarlah Bilal dari Masjid sedang tangannya diatas kepalanya: “Ini adalah Rasulullah, sekarang Beliau memberikan dirinya untuk diqishash.”
Dia mengetuk pintu Fathimah, dan bertanyalah Fathimah: “Siapa yang ada di depan pintu?”
Bilal menjawab: “Aku datang untuk mengambil tongkat Rasulullah”
Fathimah bertanya: “Hai Bilal, apa yang akan diperbuat Ayah dengan tongkat itu?”
Bilal menjawab: “Hai Fathimah, Ayahmu memberikan dirinya untuk di qhisash.”
Fathimah bertanya lagi: “Hai Bilal, siapakah yang sampai hatinya mau membalas pada Rasulullah?”
Lalu Bilal mengambil tongkat itu dan masuklah dia ke Masjid serta memberikan tongkat itu kepada Rasulullah, sedang Rasul kemudian menyerahkannya kepada Akasyah.
Ketika Abu Bakar dan Umar ra. memandangnya, maka berdirilah mereka berdua dan berkata: “Hai Akasyah, aku masih berada didepanmu, maka balaslah kami dan janganlah engkau membalas kepada Nabi Muhammad SAW.”
Bersabdalah Rasulullah SAW: “Duduklah engkau berdua, Allah telah mengetahui kedudukanmu.”
Berdiri pula Ali ra. dan berkatalah dia: “Hai Akasyah, aku masih hidup di depan Nabi Muhammad SAW. Tidak akan aku sampai hati kalau engkau membalas Rasulullah SAW. Ini punggungku dan perutku, balaslah aku dengan tanganmu dan deralah aku dengan tanganmu.”
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Hai Ali, Allah telah mengetahui kedudukan dan niatmu.”
Berdiri pula Hasan dan Husain, dan mereka berkata: “Hai Akasyah, bukankan engkau mengenal kami berdua. Kami adalah dua orang cucu Rasulullah. Membalas kepada kami adalah sama seperti membalas kepada Rasulullah.”
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Duduklah engkau berdua wahai penyejuk mataku.”
Kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda: “Hai Akasyah, pukullah kalau engkau mau memukul.”
Akasyah berkata: “Ya Rasulullah, engkau memukulku dahulu dalam keadaan aku tidak terhalang pakaianku.”
Lalu Rasulullah menyingkapkan pakaiaannya, dan berteriaklah orang-orang Islam yang hadir seraya menangis.
Ketika melihat putihnya jasad Rasulullah, Akasyah menubruknya dan mencium punggungnya.
Berkatalah dia: “Nyawaku sebagai tebusanmu ya Rasulullah, siapakah yang akan sampai hati untuk membalasmu ya Rasulullah. Aku melakukannya hanya mengharapkan agar tubuhku dapat menyentuh jasadmu yang mulia, dan Allah akan memelihara aku berkat kehormatanmu dari neraka.”

Bersabdalah Nabi Muhammad SAW: “Ingat, barang siapa yang ingin melihat penghuni surga maka hendaklah dia melihat orang ini.”
Semua orang Islam yang hadir berdiri, dan mencium antara kedua mata Akasyah seraya berkata: “Beruntung sekali engkau, engkau berhasil mendapatkan derajat yang tinggi dan berkawan dengan Nabi Muhammad SAW di surga.

Cahayakan Hati, Tinggalkan Dengki.. Syurga Menanti

nOr_hiDayah

ANAS bin Malik berkata, kami berada di dalam masjid bersama Nabi SAW, tiba-tiba Baginda bersabda, "Akan masuk kepadamu seorang ahli syurga sambil memegang kedua-dua sandalnya dengan tangan kirinya"
Maka tiba-tiba masuk seorang sebagaimana yang disabda Nabi itu. Sesudah memberi salam ia duduk bersama kami.

Kemudian esok harinya, Rasulullah SAW bersabda sama seperti sebelumnya. Masuk lelaki berkenaan dan hari ketiga Nabi SAW bersabda dan peristiwa sama berulang. Ketika lelaki itu bangun untuk pulang, Abdullah bin Amr Al-Ash mengekorinya sambil berkata, "Terjadi pertengkaran sedikit antaraku dengan ayahku sehingga aku bersumpah tidak akan bertemunya selama tiga malam, maka jika engkau tidak keberatan maka saya akan bermalam di tempatmu selama tempoh berkenaan. Jawabnya, " Baiklah".

Anas berkata, " Abdullah bin Amr menceritakan bahawa ia bermalam di tempat lelaki itu dan ternyata orang itu tidak bangun malam, hanya jika tidur berzikir sehingga bangun fajar, dan jika berwuduk sempurna dan juga sembahyang dengan khusyuk dan tidak puasa sunat. Itu yang saya perhatikan kelakuannya sampai tiga hari tiga malam tidak lebih dari itu, dan ia tidak berkata-kata kecuali yang baik".


"Setelah tiga malam saya berasa ia tidak mempunyai amal yang berlebihan dan berkata kepadanya, "Sebenarnya antaraku dengan ayahku tidak ada apa-apa, tetapi saya mendengar Rasulullah SAW bersabda dalam tiga hari majlis berturut-turut. "Akan tiba padamu seorang ahli syurga". Tiba-tiba engkau yang datang, kerana itu, "Saya ingin mengetahui apa amalmu dan saya berusaha bermalam di tempatmu untuk meniru amalmu tetapi ternyata kepadaku bahawa engkau tidak berlebihan". "Apakah yang engkau lakukan sehingga menyebabkan Nabi SAW bersabda sedemikian"? Jawabnya: "Tidak ada melainkan apa yang sudah engkau lihat"
.

Maka aku pun meninggalkannya, tetapi dipanggilnya semula dan berkata, "Amalku tidak lebih melainkan apa yang sudah engkau saksikan itu, namun saya tidak iri hati atau dengki pada seseorang Muslim terhadap segala yang ia mendapatnya". Saya berkata, " Inilah yang dilakukan engkau sehingga Nabi SAW bersabda sedemikian dan itulah yang tidak dapat kami laksanakan".

-Sumber Abullaits Assamarqandi, Tanbihul Ghafilin.

tEladaN dI daLam kePimpiNan

Cuaca di luar sangat panas terik. Ketika itu sahabat Nabi s.a.w., Saidina Uthman bin Affan r.a. sedang berehat di rumahnya. Dari jendela rumahnya dia dapat melihat seorang lelaki yang sudah berumur, berjalan terhoyong-hayang menutupi mukanya dari kepanasan dan debu yang berterbangan.
Saidina Uthman kehairanan. Siapakah lelaki yang sanggup berjalan di tengah panas itu sedangkan orang lain semuanya berteduh, di kala hari yang panas begitu terik sedemikian rupa. Pasti dia berada di dalam kesusahan. Lantas dia membuat andaian sendiri.

Kemudian, lelaki itu kelihatan memegang seekor lembu pada tali kekangnya. Saidina Uthman memanggil lelaki yang tidak dikenali dari jauh itu, supaya berteduh di rumahnya dari panas terik, selain ingin mengetahui siapakah gerangan lelaki tersebut.

Setelah lelaki itu tiba di halaman rumahnya, Saidina Uthman terperanjat kerana ternyata rupa-rupanya dia ialah Amirul Mukminin Khalifah Umar Al-Khattab. Saidina Uthman segera keluar dari rumahnya dan bertanya, “Engkau dari mana wahai Amirul Mukminin?”

Saidina Umar menjawab, “Sebagaimana yang engkau melihat, aku sedang mengheret lembu ini.”

“Siapakah pemiliknya?” Tanya Saidina Uthman dengan penuh kehairanan, bagi mendapatkan kepastian. Sebab biasanya Saidina Umar tidak begitu menghiraukan harta bendanya sendiri.

“Ini adalah kepunyaan anak-anak yatim yang telah terlepas dari kandangnya dan berlari di jalan. Aku telah mengejarnya sehinggalah aku dapat menangkapnya.”

Saidina Uthman bertanya lagi, “Tidak adakah orang lain yang boleh melakukan pekerjaan itu selain engkau, bukankah engkau seorang Khalifah?”

Saidina Umar menjawab dengan tegas, “Siapakah yang bersedia menebus dosaku di hari perhitungan kelak? Mahukah orang itu memikul tanggungjawabku di hadapan Allah? Kekuatan adalah amanah bukan kehormatan.”

Maka Khalifah Umar Al-Khattab pun meneruskan perjalanannya. Saidina Uthman hanya melihatnya pergi dengan air matanya jatuh berguguran membasahi pipi. “Engkau merupakan cermin sebagaimana seharusnya menjadi kewajipan seorang pemimpin negara dan merasa berat dirasakan oleh Khalifah selepasmu.”

Sedikit kesimpulan dari perkongsian cerita ini, pemimpin yang beriman sebegitu, merasa bimbang dan resah dengan jawatan dan amanah yang disandangnya kerana tanggungjawab itu sungguh berat. Berbeza sekali dengan manusia pada zaman ini yang mana mereka berlumba-lumba ingin mendapatkan jawatan, tanpa mengira ianya melobi atau rasuah, supaya dapat menggunakan kuasa dan wang yang ada padanya.


p/s : Pemimpin negara kita hari ini bagaimana pula ya? Apakah masih ada di dalam hati-hati mereka tentang tanggungjawab mereka terhadap rakyat? Rakyat yang memberi kepercayaan kepada mereka, seharusnya mereka membalas kepercayaan tersebut, dengan menjaga kepentingan rakyat, mendengar rintihan dan luahan hati rakyat.. Amanah dan kepercayaan dari rakyat, wasilah untuk berkhidmat untuk rakyat, bukan untuk membebankan rakyat..=p

Saturday, March 5, 2011

5 Ciri Mukmin Berjaya

  1.  Mereka yang khusyuk di dalam solat. Hal ini adalah kerana solat merupakan perkara yang pertama sekali akan disoal oleh ALLAH SWT pada hari kiamat kelak. Jadi orang yang menjaga solatnya dengan baik, khusyuk dan tawadduk, maka mereka merupakan orang yang berjaya. Hasil dari solat yang khusyuk dan sempurna inilah dapat mencegah daripada perbuatan yang keji & mungkar.
  2. Orang yang menjaga dirinya daripada terlibat  dengan perkara-perkara yang melalaikan dan tidak berfaedah. Hal ini adalah kerana benda-benda yang melalaikan boleh menjauhkan seseorang daripada mengingati ALLAH SWT, maka senanglah syaitan dan hawa-nafsu menguasai serta membawa dirinya ke arah kemaksiatan dan derhaka kepada ALLAH SWT.
  3. Orang yang mengeluarkan zakat. Zakat asalnya ialah satu perkataan bahasa Arab. Ertinya ialah PEMBESIHAN. Makna zakat disini ialah mengeluarkan sebahagian harta dengan kadar yang ditentukan oleh syarak. Zakat ini dikeluarkan kepada mereka yang disebut sebagai ASNAF LAPAN didalam Surah Al-Taubah.
  4. Orang yang menjaga kemaluannya daripada melakukan perkara-perkara yang dilarang oleh ALLAH SWT melainkan kepada isteri dan hamba perempuannya. Oleh sebab perkara ini merupakan satu perkara yang payah untuk dielakkan, Rasulullah SAW menjamin kepada mereka yang dapat menjaga kemaluannya daripada melakukan perkara yang dilarang oleh ALLAH SWT.
Wallahuallam....Semoga kita semua termasuk dalam golongan mukmin berjaya hendaknya..Amin ^^
  1. Orang yang menjaga amanah dan janji yang diberikan kepada mereka. Mereka menjaga amanah dan janji dengan penuh tanggungjawab dan kesedaran. Ini adalah kerana mereka yang mengkhianati serta tidak memelihara amanah dan janjinya dengan baik, mereka disifatkan oleh Rasulullah SAW sebagai ORANG MUNAFIK.

4 Tanda : Yang Mana 1 Milik Kita?


4 tanda orang bahagia:-
  1. Suka mengingati dosa-dosa yang lalu dan diinsafinya.
  2. Suka melupakan kebaikan yang telah lalu.
  3. Dalam urusan agama, dia suka melihat orang yang lebih atas daripadanya.
  4. Dalam urusan dunia, dia suka melihat orang yang lebih bawah daripadanya.
4 tanda orang celaka:-
  1. Suka melupakan dosa-dosa yang telah lalu, padahal dosa-dosa itu tersimpan disisi ALLAH SWT.
  2. Suka membangga-banggakan kebaikan yang telah lalu, padahal dia tidak tahu apakah kebaikannya itu diterima oleh ALLAH SWT atau tidak.
  3. Dalam urusan dunia, dia suka melihat orang yang lebih atas daripadanya.
  4. Dalam urusan agama, dia suka melihat orang yang lebih rendah daripadanya.
Semoga kita memiliki bahagia hendaknya...Amin..Wallahuallam..^^

Jaga 7 Sunnah Rasulullah SAW

"Cerdasnya orang yang beriman adalah dia yang mampu mengolah hidupnya yang sesaat, yang sekejap untuk hidup yang panjang. Hidup bukan untuk hidup, tetapi hidup untuk YANG MAHA HIDUP. Hidup bukan untuk mati, tapi mati itulah untuk hidup.
Kita janganlah takut mati, jangan mencari mati, jangan lupakan mati, tapi rindukan mati. Kerana, mati adalah pintu berjumpa dengan ALLAH SWT. Mati bukanlah cerita dalam akhir hidup, tetapi mati adalah awal cerita sebenarnya, maka sambutlah kematian dengan penuh ketakwaan."
Hendaklah kita selalu menjaga tujuh sunnah Nabi SAW setiap hari. Ketujuh sunnah Nabi SAW itu adalah;
  1. TAHAJUD, kerana kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajudnya.
  2. MEMBACA AL-QURAN SEBELUM TERBIT MATAHARI. Alangkah baiknya sebelum mata melihat dunia, sebaiknya mata membaca AL-QURAN terlebih dahulu dengan penuh pemahaman.
  3. JANGAN TINGGALKAN MASJID terutama diwaktu SUBUH. Sebelum melangkah ke mana pun langkahkan kaki ke masjid, kerana masjid merupakan pusat keberkahan, bukan kerana panggilan muadzin tetapi panggilan ALLAH SWT yang mencari orang beriman untuk memakmurkan masjid ALLAH SWT.
  4. JAGA SOLAT DUHA, kerana KUNCI REZEKI terletak pada solat duha.
  5. JAGA SEDEKAH setiap hari. ALLAH SWT menyukai orang yang suka bersedekah dan malaikat ALLAH SWT selalu mendoakan kepada orang yang bersedekah setiap hari.
  6. JAGA WUDUK terus menerus kerana ALLAH SWT menyayangi hamba yang berwudhu. Kata Khalifah Ali bin Abu Thalib, "orang yang selalu berwudhu senantiasa ia akan merasa selalu solat walau ia sedang tidak solat dan dijaga oleh malaikat dengan dua doa, ampuni dosa & sayangi dia YA ALLAH".
  7. AMALKAN ISTIGHFAR setiap saat. Dengan istighfar masalah yang terjadi kerana dosa kita akan dijauhkan oleh ALLAH SWT.
Zikir adalah bukti syukur kita kepada ALLAH SWT. Apabila kita kurang bersyukur, maka kita kurang berzikir pula, oleh kerana itu setiap waktu harus selalu ada penghayatan dalam melaksanakan ibadah ritual dan ibadah ajaran Islam lainnya. Zikir juga merupakan makanan rohani yang paling bergizi dan dengan zikir berbagai kejahatan dapat ditangkal sehingga jauhlah umat manusia dari sifat-sifat yang berpangkal pada materialisme dan hedonisme. Wallahuallam...